Pesantren dan Tradisi Menghafal

Pesantren dan Tradisi Menghafal

Dalam dunia pendidikan pesantren, salah satu metode pengajaran yang saat ini masih dijaga dan dilestarikan adalah metode hafalan (tahfidz).

Menghafal ala pesantren akan berbeda dengan menghafal ala pelajar di sekolahan. Bila kebanyakan lembaga sekolah hanya menugaskan siswanya untuk menghafal rumus atau potongan-potongan penting dalam suatu pelajaran, maka di pesantren para santri biasa ditugaskan untuk menghafal naskah-naskah secara persis dan utuh sesuai dengan aslinya. Diantara contohnya adalah dalam hafalan naskah al-Quran, Hadits, kitab kuning, dan hafalan-hafalan lainnnya.

Di lembaga pendidikan lain, kita jarang menemukan pelajar ditugaskan menghafal semua isi buku secara utuh dan persis sesuai dengan redaksi aslinya tanpa ada kesalahan sedikit pun. Namun di pesantren, menghafal seperti ini justru sudah biasa dilakukan, bahkan menjadi tradisi yang berlangsung secara turun temurun.

Setiap santri di pondok pesantren disajikan berbagai hafalan sesuai dengan tingkatan kebutuhan. Dari mulai hafalan mendasar hingga hafalan untuk tingkat lanjutan.

Biasanya, para santri pemula yang baru memulai nyantri di pondok pesantren akan disuguhi hafalan-hafalan mendasar. Yakni hafalan seputar ilmu tauhid (aqidah) hingga hafalan doa-doa praktek ibadah (fiqih).

Bila santri sudah menguasai hafalan dasar tersebut, maka tahapan selanjutnya adalah hafalan al-Quran. Kebanyakan pesantren di Indonesia tidak memprogramkan hafalan al-Quran sebanyak 30 juz, melainkan hanya juz 30 saja sebagai hafalan dasar. Hal ini biasanya terkait dengan pertimbangan yang kekhususan tertentu.

Bila sudah hafal Juz Ama, maka santri mulai masuk pada pelajaran bahasa Arab. Dalam belajar bahasa arab, santri dibiasakan untuk menghafal isi kitab yang berisi kaidah-kaidah sesuai dengan kemampun hafalannya masing-masing. Di antara kitab yang dihafal adalah Jurumiyah, Imrithy, Nadzm al-Maksud, Alfiyah, dan Jauhar al-Maknun.

Hafalan-hafalan bahasa arab ini biasanya dikembangkan beserta pemahaman kaidah-kaidahnya. Agar para santri bisa menerapkan dan mempraktekkannya dalam membaca teks-teks bahasa arab dengan benar dan tepat. Khususnya dalam mempelajari al-Quran, Hadits, dan kitab-kitab karya para ulama mu'tabar yang notabene berbahasa arab.

Hafalan-hafalan lain biasnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pendidikan di masing-masing pesantren.

Meskipun hafalan menjadi hal penting dalam tradisi pendidikan pesantren, namun pada dasarnya penekanan utama dari proses makhir menghafal ini adalah untuk menunjang pemahaman para santri dalam ilmu agama yang mampu mengemukakan dalil berkat hafalannya.

Sebab pemahaman lebih utama dari sekedar hafalan. Dan pemahaman yang disertai hafalan lebih utama dari sekedar faham saja, atau hafal saja.

Setelah santri memiliki hafalan dan pemahaman yang seimbang, pada titik tersebut akan tersambung suatu sanad keilmuan. Yang nantinya akan berantai dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
_____
Oleh: Ang Rifkiyal
(Ansor Bandung Barat/Mahasiswa Pascasarjana Uninus Bandung)

0 Response to "Pesantren dan Tradisi Menghafal"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel