Belajar Ikhlas Dari Kisah Ketaatan Siti Hajar dan Nabi Ibrahim

author photo
Belajar Ikhlas Dari Kisah Ketaatan Siti Hajar dan Nabi Ibrahim

Postingan Prof. Nafisyah Hosen ini menarik untuk ditelaah, ia menganalisis dari sudut pandang kritis positif.
Sama halnya melihat bahwa Islam membatasi poligami cukup 4 orang sebagai bagian dari pemberdayaan perempuan, bukan sebagai "penindasan" seperti yang dituduhkan kalangan feminis liberal.

IKHLAS

Hajar protes. Mengapa suaminya Ibrahim meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberi putra. Hajar mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak: "Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?" Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran.

Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, "Apakah ini perintah Tuhanmu?" Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semua terkesiap.

Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas, "Iya!". Hajar berhenti mengejar. dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang mengagetkan semuanya: malaikat, butir pasir dan angin.  "Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami." Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. Peristiwa Hajar dan Ibrahim ini adalah romantisme keberkahan.

Itulah ikhlas. Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah kepasrahan bukan  mengalah apalagi menyerah kalah. Ikhlas itu adalah engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilh patuh dan tunduk. Ikhlas adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri dari semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalanNya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain. Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa. Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengalkulasi hasil akhir. Ikhlas tak pernah berhitung. Ikhlas tak pernah pula menepuk dada. Ikhlas itu tangga menujuNya. Ikhlas itu mendengar perintahNya dan menaatiNya. Ikhlas adalah ikhlas. Titik.

"Belum cukupkah engkau memahami apa itu ikhlas dari diamnya Hajar dan perginya Ibrahim?"

Dan aku, kamu, serta kita....semuanya tertunduk pasrah bersama Malaikat, butir pasir dan angin.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
meng-Hajar-kan pertanyaan, meng-Ibrahim-kan jawaban
8 Zulhijah 1437H
**
sumber: KBAswaja

Tulisan ini memiliki 2 komentar

avatar
mv novia sandy delete September 13, 2016 at 12:47 PM

Tergetar dengan...
"Ikhlas adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri dari semua yang engkau cintai."

Lanjutkan Rifky.

Reply
avatar
E - pank delete January 5, 2017 at 2:11 PM

Harus mencari sendiri caranya, menemukan cara teringkas dan cara-cara agar bisa lekas. Sekalipun tidak bisa cepat, bukan masalah. Kerena proses belajar mengikhlaskan akan selalu menakjubkan, apabila saat ini belum terasa, https://www.itsme.id/ikhlas-itu-ilmu-otodidak/

Reply
Next article Next Post
Previous article Previous Post