Type something and hit enter

author photo
By On
Ahlul Bid’ah Berjamaah

Ehem. Rasanya menarik untuk sedikit mengulas tengtang bid’ah-bid’ahan. Sesuatu yang memiliki pengertian sebagai urusan-urusan baru dalam agama islam yang tidak ada tuntunanya dari Rasulullah SAW. Atau lebih simpelnya, sesuatu yang tidak ada di zaman Rasul. Dan kerap kali, orang-orang yang tidak tahu tentang bid’ah akan mudah tergelincir kedalamnya. Sedangkan orang-orang yang kurang faham tentang bid’ah sedikit-sedikit akan mudah menuduh bid’ah. Sehingga sudah selayaknya kita sebagai orang islam harus tahu dan benar-benar faham tentang bid’ah, agar kita terhindar dari fitnah-fitnah seputar bid’ah dan senantiasa menapaki jalan sunnah.
(baca: Pengertian Bid'ah dan Pembagiannya Menurut Para Ulama)

Pernahkah kita mendengar, membaca, atau melihat ada sebagian orang yang saling klaim dan saling tuding seputar bid’ah? Satu pihak ada yang menyebut tentang satu urusan sebagai perbuatan bid’ah, sesat, dan masuk neraka. Sedang di pihak lain merasa tidak demikian. Satu pihak ada yang menyebut semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah secara mutlak dan wajib masuk neraka, sedangkan di pihak lain mengatakan tidak semua perkara baru adalah sesat sehingga tidak bisa dimasukkan pada kategori bid’ah tercela.

(baca: Setiap Bid'ah Sesat?)

Tentu, pembahasan-pembahasan panjang seputar bid’ah ini bukan hanya terjadi pada hari ini. Jauh sebelum para pembaca tulisan ini lahir, bincang-bincang tentang bid’ah sudah ada sejak dulu. Pembahasan lengkapnya sudah diulas oleh para ulama. Dan rasanya yang dibahas saat ini pun seputar itu-itu saja. Bahkan lebih tepatnya hanya diulang-ulang. Dan kemunculannya saat ini tidak lagi untuk kepentingan ilmu dan amal, melainkan lebih kepada hawa nafsu untuk saling menjatuhkan.

Kini, orang-orang yang suka menuduh bid’ah merasa paling nyunnah. Kegiatan melepar telunjuk guna membid’ahkan amaliyyah umat islam lainnya pun sudah seperti hobi. Melihat orang lain mengadakan maulid nabi dan isra mi’raj terasa kebakaran jenggot, resah, dan gelisah. Pemikiran fundamentalis berlebih membuat mereka susah makan dan susah tidur. Serta menganggap hal-hal demikian merontokkan islam karena tidak ada di zaman rasul. Begitu pun tehadap kegiatan tasyakur semacam 4 atau 7 bulanan bayi, dzikir berjamaah, sholawatan, rutin qunut shubuh, rutin membaca yasin setiap malam jum’at, bermadzhab, dan lain sebagainya sebagai amaliyah yang merontokkan sunnah. Dan para pelakunya adalah sesat yang kemudian masuk neraka.
(baca: Kajian Hadits: Kullu Bid'atin Dlolalah, setiap bid'ah sesat)

Sebaliknya, orang-orang yang merasa amaliyyahnya berlandaskan dalil, tuntunannya jelas ada, dengan landasan keilmuan bersanad hingga Rasulullah SAW, mereka lantas merasa dikeluarkan dari lingkaran islam ketika kemudian dituduh sebagai pelaku bid’ah tercela dan diposisikan sebagai ahli neraka. Sebagian yang bijak memilih menjawab dengan ramah, sebagian yang awam malah marah-marah dan memaki-maki. Kemudian terjadilah perang saudara. Dan kemunduran islam nyata di depan mata.

Rasanya ini bukan devide et impera lagi. Alias politik adu domba. Ini lebih pada adu domba dengan sendirinya. Selamat gontok-gontokan.

Kita mengerti, beberapa permasalahan dalam payung umat islam memang tekait masalah ushuliyyah (pokok), sebagian lagi yang kebanyakan terkait masalah furu’iyyah (cabang). Tapi bukan berarti kita memperbesar masalah. Hendaknya, term ikhtilaf yang diartikan sebagai rahmat harus ditempel di hati dan pikiran kita. Hendaknya kita saling memahami perbedaan dari sisi persamaan. Kita adalah umat islam yang bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah saudara. Janganlah kita merasa paling benar dan bersombong diri. Karena hal demikian adalah sebagian dari sifat setan. Yang pada akhirnya, kita yang seharusnya menjadi ahlusunnah wal jama’ah malah menjadi ahlul bid’ah berjamaah. Naudzubillah.
Post a Comment
Click to comment