Type something and hit enter

author photo
By On
Pengertian Bid'ah dan Pembagiannya Menurut Para Ulama

Dakwah.web.id ~ Mengkaji bid'ah tentu adalah sebuah kemistian bagi kita selaku umat islam agar senantiasa bisa mengamalkan sunnah Rasulullah dan mejauhkan diri dari perbuatan dlalalah (kesesatan). Oleh sebab itu, mari kita sama-sama mengkaji bid'ah dengan hati yang bersih tanpa dengki, tentunya diiringi dengan niat ikhlas karena Allah SWT.

PENGERTIAN BIDAH

Bid'ah (بدعة) secara bahasa memiliki arti perkara baru yang belum ada sebelumnya. Maka setiap perkara baru yang belum pernah ada sebelumnya dinamakan bid'ah. Allah SWT dalam Asma al-Husna memiliki nama al-badi' (البديع) yang artinya Maha Pelaku Bid'ah, atau Maha Menciptakan Segala sesuatu perkara yang belum ada sebelumnya.

Adapun pengertian bid'ah secara istilah syara' adalah sebagaimana dikemukakan oleh para ulama berikut:

Ibnu Rojab al-Hanbali dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, beliau berkata:

ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﺒﺪﻋﺔ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻣﻤﺎ ﻻ ﺃﺻﻞ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺃﺻﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻠﻴﺲ ﺑﺒﺪﻋﺔ ﺷﺮﻋﺎ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﺪﻋﺔ ﻟﻐﺔ
Artinya:
"Yang dimaksud dengan bid'ah adalah perkara baru yang tidak ada asalnya dalam syariat untuk dijadikan dalil. Adapun perkara yang memiliki pokok syara' yang bisa menjadi dalil atasnya, maka itu bukan bid'ah menurut istilah syara. Meskipun secara bahasa hal tersebut termasuk bid'ah"

Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Fath al-Bari syarah al-Bukhari berkata:

ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﺎﺕ ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﺪﺍﻝ ﺟﻤﻊ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻬﺎ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺃﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻭﻳﺴﻤﻰ ﻓﻲ ﻋﺮﻑ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺃﺻﻞ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻓﻠﻴﺲ ﺑﺒﺪﻋﺔ، ﻓﺎﻟﺒﺪﻋﺔ ﻓﻲ ﻋﺮﻑ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻣﺬﻣﻮﻣﺔ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻓﺈﻥ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺃﺣﺪﺙ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺜﺎﻝ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﺪﻋﺔ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﻤﻮﺩﺍ ﺃﻭ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎ
Artinya:
"'Al-Muhdatsaat' (dengan dibaca fatah pada huruf dal) merupakan bentuk jamak dari kata 'muhdasah'. Yang artinya adalah perkara baru serta tidak ada asalnya dalam syara'".

"Dalam istilah syara' muhdatsah dinamakan juga dengan bid'ah. Adapun perkara (baru) yang memiliki asal yang menjadi dalil syara', maka itu bukanlah bid'ah. Sebab bid'ah dalam istilah syara' itu adalah tercela. Berbeda dengan pengertian bid'ah secara bahasa, yakni setiap perkara baru tanpa ada contoh (sebelumnya) maka dinamakan bid'ah, baik itu terpuji maupun tercela".

Ar-Raghib al-Asbahany dalam kitab Mufrodat al-Qur'an berkata:

ﺍﻹﺑﺪﺍﻉ : ﺇﻧﺸﺎﺀ ﺻﻨﻌﺔ ﺑﻼ ﺍﺣﺘﺬﺍﺀ ﻭﺍﻗﺘﺪﺍﺀ، ﻭﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻬﻮ : ﺇﻳﺠﺎﺩ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺑﻐﻴﺮ ﺁﻟﺔ ﻭﻻ ﻣﺎﺩﺓ ﻭﻻ ﺯﻣﺎﻥ ﻭﻻ ﻣﻜﺎﻥ ﻭﻟﻴﺲ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﻟﻠﻪ . ﺍﻫـ ﺃﻱ ﻫﻲ ﺍﺑﺘﺪﺍﻉ ﺷﻲﺀ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﺳﺎﺑﻖ ﻣﺜﺎﻝ
Artinya:
"Bid'ah artinya membuat satu perbuatan tanpa mencontoh dan meniru. Ketika disandingkan kepada Allah SWT, maka bid'ah artinya adalah menciptakan sesuatu tanpa alat, bahan, waktu, dan tempat. Tiadalah hal demikian kecuali karena Allah. ~Yakni melakuakan perbuatan baru tanpa ada contoh sebelumnya~"

Al-Imam Abu Syaamah Abd ar-Rahman bin Isma'il al-Maqdisi (guru imam an-Nawawi) berkata dalam kitabnya al-Ba'its 'ala inkari al-Bida':

ﺃﺻﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻻﺧﺘﺮﺍﻉ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻳَﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﺻﻞ ﺳﺒﻖ،ﻭﻻ ﻣﺜﺎﻝ ﺍﺣﺘﺬﻯ، ﻭﻻ ﺃُﻟّﻒ ﻣﺜﻠﻪ
Artinya:
"Asal kata (bid'ah) ini adalah dari kata al-ikhtira', yakni sesuatu yang baru tanpa asal sebelumnya, tanpa contoh yang ditiru, dan tidak ada yang pernah membuat semisalnya".

Ibnu al-'Aroby al-Maliky berkata:

ﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭ ﺍﻟﻤُﺤﺪﺙ ﻣﺬﻣﻮﻣﻴﻦ ﻟﻠﻔﻆ ﺑﺪﻋﺔ ﻭ ﻣُﺤﺪﺙ ﻭ ﻻ ﻣﻌﻨﻴﻴﻬﻤﺎ، ﻭﺇﻧّﻤﺎ ﻳُﺬﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻤُﺤﺪﺛﺎﺙ ﻣﺎ ﺩﻋﺎ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻀﻼﻟﺔ
Artinya:
"Bid'ah dan Muhdatsat keduanya tidaklah tercela untuk lafadz dan maknanya. Namun yang tercela dari Muhdatsat adalah apa yang mengajak pada kesesatan."
***

PEMBAGIAN BID'AH

Dalam syariat islam, bid'ah dibedakan ke dalam beberapa pembagian. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh para Ulama.

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Manaqib asy-Syafi'i Juz 1 Hal. 469, dari Imam asy-Syafi'i R.A. beliau berkata:

ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺿﺮﺑﺎﻥ : ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻣﻤﺎ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺑًﺎ ﺃﻭ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺃﺛﺮًﺍ ﺃﻭ ﺇﺟﻤﺎﻋًﺎ، ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ.ﺍﻟﻀﻼﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ : ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻻ ﺧﻼﻑ ﻓﻴﻪ ﻟﻮﺍﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ، ﻭﻫﺬﻩ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﻏﻴﺮ ﻣﺬﻣﻮﻣﺔ
Artinya:
"Muhdatsat (perkara baru) dari berbagai urusan itu ada dua. Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan al-Qur'an, as-Sunnah, atsar, atau Ijma'. Maka ini merupakan bid'ah sesat. Kedua, perkara baru berupa kebaikan yang tidak dipertentangkan oleh ulama. Maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela."

Ibnu Hajar al-Asqolani yang menjadi 'Amir al-Mu'minin di bidang Hadits dalam kitabnya Fath al-Bariy Juz 13 hal. 253:

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ : ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺑﺪﻋﺘﺎﻥ ﻣﺤﻤﻮﺩﺓ ﻭﻣﺬﻣﻮﻣﺔ, ﻓﻤﺎ ﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻬﻮ ﻣﺤﻤﻮﺩ ﻭﻣﺎ ﺧﺎﻟﻔﻬﺎ ﻓﻬﻮ ﻣﺬﻣﻮﻡ، ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﺑﻤﻌﻨﺎﻩ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ، ﻭﺟﺎﺀ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﺎ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺒﻪ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﺎﺕ ﺿﺮﺑﺎﻥ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺑﺎ ﺃﻭ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺃﺛﺮﺍ ﺃﻭ ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ ﻓﻬﺬﻩ ﺑﺪﻋﺔ ﺍﻟﻀﻼﻝ، ﻭﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻻ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﺬﻩ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﻏﻴﺮ ﻣﺬﻣﻮﻣﺔ . ﺍﻧﺘﻬﻰ
Artinya:
Imam asy-Syafi'i berkata: "Bid'ah itu terbagi dua yakni bid'ah terpuji dan bid'ah tercela. Maka bid'ah yang selaras dengan as-Sunnah adalah bid'ah terpuji. Dan bid'ah yang bertentangan dengan as-Sunnah adalah bid'ah tercela."

Riwayat diatas dikemukakan oleh Abu Na'im berdasarkan maknanya melalui Ibrahim bin al-Junaid yang diterima dari Imam asy-Syafi'i.

Dan datang pula dari Imam asy-Syafi'i yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Manaqibnya, bahwa beliau berkata: "Muhdatsat (perkara baru) itu ada dua. Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan Kitab (al-Quran), as-Sunnah, atsar, atau Ijma'. Maka ini merupakan bid'ah sesat. Dan kedua, perkara baru berupa kebaikan yang tidak bertentangan dengan hal tersebut. Maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela."

Masih dalam Fath al-Bariy, Ibnu Hajar al-'Asqolani berkata:
ﻭﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺃﺻﻠﻬﺎ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺜﺎﻝ ﺳﺎﺑﻖ , ﻭﺗﻄﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﺑﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﺘﻜﻮﻥ ﻣﺬﻣﻮﻣﺔ , ﻭﺍﻟﺘﺤﻘﻴﻖ ﺃﻧﻬﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻤﺎ ﺗﻨﺪﺭﺝ ﺗﺤﺖ ﻣﺴﺘﺤﺴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻓﻬﻲ ﺣﺴﻨﺔ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻤﺎ ﺗﻨﺪﺭﺝ ﺗﺤﺖ ﻣﺴﺘﻘﺒﺢ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻓﻬﻲ ﻣﺴﺘﻘﺒﺤﺔ ﻭﺇﻻ ﻓﻬﻲ ﻣﻦ ﻗﺴﻢ ﺍﻟﻤﺒﺎﺡ ﻭﻗﺪ ﺗﻨﻘﺴﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺨﻤﺴﺔ
Artinya:
Bid'ah asalnya adalah perkara baru yang tidak ada contoh sebelumnya. Bid'ah dikatakan dalam istilah syara' untuk (sesuatu) yang berlawanan dengan sunnah, maka itu merupakan bid'ah tercela. Dan tahqiqnya, apabila bid'ah termasuk kedalam hal yang dianggap baik oleh syara', maka itu merupakan bid'ah hasanah (baik). Dan apabila bid'ah termasuk ke dalam hal yang dianggap jelek oleh syara', maka itu merupakan bid'ah buruk. Dan jika tidak, maka bid'ah termasuk sebagian dari perkara mubah (boleh). Dan bid'ah terbagi menjadi lima hukumnya."

Imam Nawawi dalam kitab Tahdzib al-Asma wa al-Lughot juz. 3 Hal. 22 berkata:

ﺍﻟﺒِﺪﻋﺔ ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﺒﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻫﻲ ﺇﺣﺪﺍﺙ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﻋﻬﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻫﻲ ﻣﻨﻘﺴﻤﺔ ﺇﻟﻰ : ﺣﺴﻨﺔ ﻭﻗﺒﻴﺤﺔ
Artinya:
"Bid'ah (dengan dibaca kasrah pada Ba) dalam istilah syara adalah membuat hal baru yang tidak ada di masa Rasul SAW. Bid'ah terbagi menjadi bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah qobihah (jelek)"

Beliau juga berkata:

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻤُﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﺇﻣﺎﻣﺘﻪ ﻭﺟﻼﻟﺘﻪ ﻭﺗﻤﻜﻨﻪ ﻓﻲ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﻭﺑﺮﺍﻋﺘﻪ ﺃﺑﻮ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺿﻲ ﻋﻨﻪ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﻛﺘﺎﺏ : ﺍﻟﻘﻮﺍﻋﺪ : ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻣﻨﻘﺴﻤﺔ ﺇﻟﻰ : ﻭﺍﺟﺒﺔ، ﻭﻣﺤﺮﻣﺔ، ﻭﻣﻨﺪﻭﺑﺔ، ﻭﻣﻜﺮﻭﻫﺔ، ﻭﻣﺒﺎﺣﺔ . ﻗﺎﻝ : ﻭﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﺽ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ، ﻓﺈﻥ ﺩﺧﻠﺖ ﻓﻲ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻹﻳﺠﺎﺏ ﻓﻬﻲ ﻭﺍﺟﺒﺔ، ﺃﻭ ﻓﻲ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻓﻤﺤﺮﻣﺔ، ﺃﻭ ﺍﻟﻨﺪﺏ ﻓﻤﻨﺪﻭﺑﺔ، ﺃﻭ ﺍﻟﻤﻜﺮﻭﻩ ﻓﻤﻜﺮﻭﻫﺔ، ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺒﺎﺡ ﻓﻤﺒﺎﺣﺔ . ﺍﻫـ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻨﻮﻭي
Artinya:
"Imam Abu Muhammad Abd al-Aziz bin Abd as-Salam ~rahimahullah~ sang guru yang padanya terkumpul kepemimpinan, keluhuran dan kemampuan dalam berbagai ilmu serta kepiawaian berkata dalam akhir kitab al-Qowaid: 'Bid'ah itu terbagi menjadi: Wajib, Haram, Sunnah, Makruh, dan Mubah'. Beliau berkata: 'Alur dalam hal tersebut yaitu hendaknya bid'ah dilihat berdasarkan kaidah syar'iyah. Jika bid'ah masuk dalam kaidah wajib, maka bid'ah adalah wajib. Atau dalam haram, maka haram. Atau dalam sunnah, maka sunnah. Atau dalam makruh, maka makruh, atau dalam mubah, maka mubah.' Demikian perkataan Imam an-Nawawi."

Imam Abu Syaamah Abd ar-Rahman bin Ismail al-Maqdisi berkata dalam al-Ba'its ala Inkari al-Bida':

ﺛﻢ ﺍﻟﺤﻮﺍﺩﺙ ﻣﻨﻘﺴﻤﺔ ﺍﻟﻰ ﺑﺪﻉ ﻣﺴﺘﺤﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﻰ ﺑﺪﻉ ﻣﺴﺘﻘﺒﺤﺔ ﻗﺎﻝ ﺣﺮﻣﻠﺔ ﺍﺑﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺑﺪﻋﺘﺎﻥ ﺑﺪﻋﺔ ﻣﺤﻤﻮﺩﺓ ﻭﺑﺪﻋﺔ ﻣﺬﻣﻮﻣﺔ ﻓﻤﺎ ﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻬﻮ ﻣﺤﻤﻮﺩ ﻭﻣﺎ ﺧﺎﻟﻒ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻬﻮ ﻣﺬﻣﻮﻡ
Artinya:
"Hal-hal baru itu terbagi menjadi bid'ah yang dianggap baik, dan bid'ah yang dianggap jelek. Harmalah ibnu Yahya berkata: 'aku mendengar Imam Syafi'i ~rahimahullah~ berkata: 'bid'ah itu ada dua, yaitu bid'ah terpuji dan bid'ah tercela. Maka bid'ah yang selaras dengan as-Sunnah adalah bid'ah terpuji. Dan bid'ah yang bertentangan dengan as-Sunnah adalah bid'ah tercela.'"

al-Karmani dalam Syarah Shahih al-Bukharinya berkata:

ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻋُﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺜﺎﻝ ﺳﺎﺑﻖ، ﻭﻫﻲ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ : ﻭﺍﺟﺒﺔ ﻭﻣﻨﺪﻭﺑﺔ ﻭﻣﺤﺮﻣﺔ ﻭﻣﻜﺮﻭﻫﺔ ﻭﻣﺒﺎﺣﺔ . ﻭﺣﺪﻳﺚ :ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ، ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﻡ ﺍﻟﻤﺨﺼﻮﺹ
Artinya:
"Bid'ah adalah segala sesuatu yang diperbuat tanpa ada contoh sebelumnya. Ia terbagi menjadi lima bagian, yakni: Wajib, Sunah, Haram, Makruh, dan Mubah. Dan hadits Nabi yang berbunyi 'setiap bidah adalah sesat' merupakan bagian dari umum khusus"

Imam al-Ghazali berkata dalam Tanqiith al-Quran dan Tajziihi:

ﻭﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻛﻮﻧﻪ ﻣُﺤﺪﺛﺎً، ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﻣﺤﺪَﺙ ﺣﺴﻦ. ﻛﻤﺎ ﻗﻴﻞ ﻓﻲ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ : ﺇﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﻣﺤﺪﺛﺎﺕ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﻭﺇﻧﻬﺎ ﺑﺪﻋﺔ ﺣﺴﻨﺔ . ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﺬﻣﻮﻣﺔ ﻣﺎ ﻳﺼﺎﺩﻡ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﻘﺪﻳﻤﺔ ﺃﻭ ﻳﻜﺎﺩ ﻳﻔﻀﻲ ﺇﻟﻰ ﺗﻐﻴﻴﺮﻫﺎ
Artinya:
"Tidak bisa dicegah adanya hal tersebut adalah Muhdats (perkara baru). Betapa banyak perkara baru yang baik. Sebagaimana dikatakan dalam mendirikan shalat Tarawih berjama'ah. Sesungguhnya hal tersebut adalah bid'ah yang dilakukan Sayyidi a Umar R.A. dan sesungguhnya hal tersebut baik. Adapun sesungguhnya bid'ah yang tercela adalah apa yang berbenturan dengan as-Sunnah sebelumnya atau hampir mengakibatkan berubahnya sunnah."

Al-Hafidz Ibn al-'Arobi al-Maliky dalam Syarah sunan at-Tirmidzi berkata:

ﺍﻋﻠﻤﻮﺍ ﻋﻠﻤﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﻗﺴﻤﻴﻦ: ﻣُﺤﺪﺙ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺃﺻﻞ ﺇﻻ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻤﻘﺘﻀﻰ ﺍﻹﺭﺍﺩﺓ، ﻓﻬﺬﺍ ﺑﺎﻃﻞ ﻗﻄﻌﺎً . ﻭﻣُﺤﺪﺙ ﺑﺤﻤﻞ ﺍﻟﻨﻈﻴﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻈﻴﺮ، ﻓﻬﺬﻩ ﺳﻨﺔ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ، ﻭﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻟﻔﻀﻼﺀ . ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﻤﺤﺪﺙ ﻭﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎً ﻟﻠﻔﻆ ﻣﺤﺪﺙ ﻭﺑﺪﻋﺔ ﻭﻻ ﻟﻤﻌﻨﺎﻫﺎ، 
Artinya:
"Ketahuilah oleh kalian, semoga Allah memberikan pengetahuan pada kalian. Sesungguhnya muhdatsat (perkara-perkara baru) dibagi dua. Pertama, perkara baru yang tidak ada asalnya kecuali berasal dari nafsu dan berbuat karena tuntunan kehendak. Maka ini batil secara pasti. Kedua, perkara baru yang diadakan namun sejalan dengan apa yang sudah disepakati, maka ini seperti sunnah khulafa ar-Rasyidin dan Imam-imam yang memiliki keutamaan.

Muhdats dan Bid'ah tidaklah tercela hanya karena berlafadz dan bermakna muhdats (perkara baru) dan bidah.

Allah SWT telah berfirman:

ﻣَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻴﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺫِﻛْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻣُﺤْﺪَﺙٍ
Artinya:
"Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur'an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka" (Q.S. al-Anbiyya: 2)

Sayyidina Umar R.A. berkata:
ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻫﺬﻩ
Artinya:
"Sebaik-baiknya bid'ah adalah ini"

sesungguhnya sesuatu yang dicela dari bid’ah adalah yang menyalahi sunnah, dan sesuatu yang dicela dari Muhdatsah adalah yang mendorong pada kesesatan.

Al-'Alamah Ibnu al-Atsir al-Jariry dalam kitabnya berkata:

ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻓﻲ ﻏﺮﻳﺐ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ : ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺑﺪﻋﺘﺎﻥ : ﺑﺪﻋﺔ ﻫﺪﻯ، ﻭﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ، ﻓﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺧﻼﻑ ﻣﺎ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻠـﻪ ﺑﻪ ﻭﺭﺳـﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻬﻮ ﻓﻲ ﺣﻴﺰ ﺍﻟﺬﻡ ﻭﺍﻹﻧﻜﺎﺭ، ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻭﺍﻗﻌﺎً ﺗﺤﺖ ﻋﻤﻮﻡ ﻣﺎ ﻧﺪﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺣﺾ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻓﻬﻮ ﻓﻲ ﺣﻴﺰ ﺍﻟﻤﺪﺡ . ﻭﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻣﺜﺎﻝ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻛﻨﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺨﺎﺀ ﻭﺍﻟﺠﻮﺩ ﻭﻓﻌﻞ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻷﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻤﺤﻤﻮﺩﺓ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺧﻼﻑ ﻣﺎ ﻭﺭﺩ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﺟﻌﻞ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺛﻮﺍﺑﺎً ﻓﻘﺎﻝ : ﻣﻦ ﺳﻦ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺃﺟﺮﻫﺎ ﻭﺃﺟﺮ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ، ﻭﻗﺎﻝ ﺿﺪﻩ : ﻣﻦ ﺳﻦ ﺳﻨﺔ ﺳﻴﺌﺔ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺯﺭﻫﺎ ﻭﻭﺯﺭ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ، ﻭﺫﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺧﻼﻑ ﻣﺎ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻻﺛﻴﺮ : ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﺄﻭﻳﻞ ﻳﺤﻤﻞ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻵﺧﺮ :ﻭﻛﻞ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﺑﺪﻋﺔ، ﻳﺮﻳﺪ ﻣﺎ ﺧﺎﻟﻒ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻭﻟﻢ ﻳﻮﺍﻓﻖ ﺍﻟﺴﻨﺔ
Artinya:
"Kesimpulan dalam hadits Umar (yang menyebutkan sebaik-baiknya bidah adalah ini) yakni: Bid'ah terbagi dua. Pertama bid'ah Huda (yang dalam petunjuk), dan kedua bid'ah Dlalal (sesat). Jadi sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT dan Rasul SAW, maka termasuk dalam ruang tercela dan munkar. Sedangkan sesuatu yang dalam realitanya masih berada dalam naungan apa yang disunnahkan serta ditentukan oleh Allah atau Rasul-Nya, maka termasuk dalam ruang terpuji. Oleh karena itu, sesuatu yang tidak tersedia contohnya namun berupa kedermawanan, kemurahan hati, perbuatan baik, maka itu termasuk perbuatan terpuji. Dan tidak bisa hal tersebut dimasukan dalam sesuatu yang bertentangan dengan syara', sebab Nabi SAW menjadikan pahala untuk hal demikian sebagaimana sabdanya:
"Barang siapa yang menciptakan perbuatan baik maka ia mendapat pahalanya dan pahala dari orang yang mengamalkannya."

Begitupun beliau bersabda untuk sebaliknya:

"Barang siapa yang menciptakan perbuatan jelek, maka dosa baginya dan dosa dari orang yang turut mengamalkannya."

Berdasarkan takwil ini, maka akhir hadits yang berbunyi "setiap bidah adalah sesat" maksudnya adalah setiap perkara yang bertentangan dengan pokok syar'iyyah dan tidak selaras dengan as-Sunnah."

Imam az-Zarqooni dalam syarah kitab al-Muwattho' Imam Malik berkata mengenai perkataan Sayyidina Umar "sebaik-baiknya bidah adalah ini" sebagai berikut:

ﻧﻌﻤﺖ، ﻷﻥ ﺃﺻﻞ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ ﺳﻨﺔ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﻤﻨﻮﻋﺔ ﺧﻼﻑ ﺍﻟﺴﻨﺔ
Artinya:
"Sebaik-baiknya, karena sesungguhnya yang ia perbuat adalah sunnah. Dan sesungguhnya bid'ah yang dilarang adalah yang bertentangan dengan as-Sunnah."

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻀﺤﻰ : ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻭﺭﻫﺒﺎﻧﻴﺔ ﺍﺑﺘﺪﻋﻮﻫﺎ ﻣﺎ ﻛﺘﺒﻨﺎﻫﺎ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺇﻻ ﺍﺑﺘﻐﺎﺀ ﺭﺿﻮﺍﻥ الله
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﺑﺘﺪﺍﻉ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﻓﻲ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻤﺒﺎﺡ
Artinya:
"Adapun berbuat bid'ah dalam amal dunia merupakan hal yang boleh"


Imam as-Subki berkata:

ﻗـﺎﻝ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ : ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻓـﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﺮﺍﺩ ﺑﻬﺎ ﺍﻷﻣﺮ ﺍﻟﺤﺎﺩﺙ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺃﺻﻞ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ، ﻭﻗﺪ ﻳﻄﻠﻖ ﻣﻘﻴﺪﺍً، ﻓﻴﻘﺎﻝ : ﺑﺪﻋﺔ ﻫﺪﻯ، ﻭﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ . ﺍﻧﺘﻬﻰ
Artinya:
"Yang dimaksud bid'ah dalam pandangan syara itu adalah perkara baru yang tidak ada asalnya dalam syara'. Dan terkadang diungkapkan dengan qayyid. Seperti diucap, "bidah huda (yang dalam petunjuk), dan "bid'ah dlalal (sesat)."

Ibnu 'Abidin al-Faqih al-Hanafi dalam kitab Raddi al-Mukhtar ala Durr al-Mukhtar juz 1 hal. 376 berkata:

ﻓﻘﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ : ﻭﺍﺟﺒﺔ ﻛﻨﺼﺐ ﺍﻻﺩﻟﺔ ﻟﻠﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺍﻟﻀﺎﻟﺔ ﻭ ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻟﻨﺤﻮ ﺍﻟﻤُﻔﻬﻢ ﻟﻠﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ، ﻭﻣﻨﺪﻭﺑﺔ ﻛﺈﺣﺪﺍﺙ ﻧﺤﻮ ﺭﺑﺎﻁ ﻭ ﻣﺪﺭﺳﺔ ﻭ ﻛﻞ ﺇﺣﺴﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻻﻭﻝ ﻭﻣﻜﺮﻭﻫﺔ ﻛﺰﺧﺮﻓﺔ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﻣﺒﺎﺣﺔ ﻛﺎﻟﺘﻮﺳﻊ ﺑﻠﺬﻳﺬ ﺍﻟﻤﺂﻛﻞ ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﺭﺏ ﻭﺍﻟﺜﻴﺎﺏ
Artinya:
"Bid'ah terkadang bisa menjadi wajib, contohnya seperti: mengemukakan dalil-dalil untuk aliran sesat, dan mempelajari ilmu nahwu  guna memahami al-Quran dan as-Sunnah. Terkadang bidah juga menjadi Sunnah contohnya seperti membuat pondok, madrasah dan segala sesuatu kebaikan yang tidak ada di masa awal (masa Rasulullah). Terkadang bidah juga menjadi makruh contohnya seperti mengukir masjid. Dan terkadang bidah menjadi mubah (boleh) contohnya seperti berkreasi mencari kenikmatan (baru dalam) makan, minum, dan juga pakaian".
***
Rm
Post a Comment
Click to comment