Karena Perayaan Maulid Nabi itu Indah, Bukan Bid'ah

author photo

Dakwah.web.id ~ Sesungguhnya perayaan maulid Nabi adalah bid'ah terkutuk menurut mereka yang gelap mata hatinya. Cahaya dan lentera islam sungguh tidak mampu menyentuh nalar pikiran serta nuraninya. Sehingga mereka tidak mampu membedakan antara indahnya sunnah dan kelamnya bid'ah.

Sejatinya, di dalam perayaan maulid Nabi, seluruh kaum muslimin bersatu padu menguatkan syiar-syiar dan simbol-simbol keislaman. Semua berkumpul dalam satu semangat persaudaraan (ukhuwwah islamiyyah) dan menegakkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam perayaan Maulid juga senantiasa dibacakan ayat-ayat suci al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi Mulia. Tidak jarang pula dibacakan berbagai syair-syair yang di dalamnya memuji keluhuran agama islam dan Rasul yang membawakannya.

Hal-hal tersebut adalah gambaran kecil dari amaliyyah yang biasa dilakukan oleh sebagian besar umat muslim di berbagai penjuru dunia. Dan tentu tidak ada yang bertolak belakang dengan syari'at islam. Beda dengan apa yang dituduhkan oleh mereka yang belum tersentuh keindahan dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT mengagungkan urusan para nabi-Nya, mengagungkan hari-hari dimana para nabi-Nya dilahirkan, diwafatkan, serta dibangkitkan kembali. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam al-Qur'an surat ayat:

 ﻭَﺳَﻼﻡٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﻭُﻟِﺪَ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﻳَﻤُﻮﺕُ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﻳُﺒْﻌَﺚُ ﺣَﻴًّﺎ
Artinya:
"Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali." (Q.S. Maryam [19]: 15)

Rasulullah SAW bersabda:

ﺇﻥ ﺃﻣﺘﻲ ﻻ ﺗﺠﺘﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﺿﻼﻟﺔ ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻢ ﺍﺧﺘﻼﻓﺎ ﻓﻌﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ . ﺭﻭﺍﻩ ﺑﻦ ﻣﺎﺟﺔ
Artinya:
"Sesungguhnya umatku tidak akan bersekongkol dalam kesesatan. Jika kalian melihat perbedaan, maka berpeganglah pada as-sawad al-a'dzom (mayoritas)" (H.R. Ibnu Majah)

Disebutkan pula oleh Baginda Nabi:

ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺪ ﺃﺟﺎﺭ ﺃﻣﺘﻲ ﺃﻥ ﺗﺠﺘﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﺿﻼﻟﺔ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺎﺻﻢ
Artinya:
"Sesungguhnya Allah telah melindungi umatku dari persekongkolan pada kesalahan" (H.R. Ibnu Abi 'Ashm)

Maka jelaslah hadits ini menjadi saksi akan kebenaran dan keabsahan maulid Nabi. Dimana saat ini kita menyaksikan mayoritas umat islam ternyata adalah mereka yang menyepakati Maulid Nabi, terlebih seluruhnya berpegang pada aqidah ahlusunnah wal jama'ah. Sehingga sabda Nabi diatas tidak bisa ditolak atas kebolehan merayakan Maulid Nabi. Sebab sebagai mana sabdanya, umat islam tidak mungkin berjama'ah melakukan kesalahan. Bila ada ikhtilaf, maka yang harus dipegang adalah apa yang telah disepakati oleh mayoritas. Dan maulid nabi telah disepakati serta diberjalankan oleh mayoritas umat islam, serta sudah dilakukan sejak ratusan tahun lamanya, terlebih dipandang baik oleh jumhur ulama yang berilmu dan beramal shalih.

Al-Imam as-Suyuthi (849 H - 911 H) ~rahimahuLlah~ berkata:

ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﺃَﻥَّ ﺃَﺻْﻞَ ﻋَﻤَﻞِ ﺍﻟْﻤَﻮِﻟِﺪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻫُﻮَ ﺍﺟْﺘِﻤَﺎﻉُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻗِﺮَﺍﺀَﺓُ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻘُﺮْﺀَﺍﻥِ ﻭَﺭِﻭَﺍﻳَﺔُ ﺍﻷَﺧْﺒَﺎﺭِ ﺍﻟْﻮَﺍﺭِﺩَﺓِ ﻓِﻲْ ﻣَﺒْﺪَﺇِ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﻭَﻣَﺎ ﻭَﻗَﻊَ ﻓِﻲْ ﻣَﻮْﻟِﺪِﻩِ ﻣِﻦَ ﺍﻵﻳَﺎﺕِ، ﺛُﻢَّ ﻳُﻤَﺪُّ ﻟَﻬُﻢْ ﺳِﻤَﺎﻁٌ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻮْﻧَﻪُ ﻭَﻳَﻨْﺼَﺮِﻓُﻮْﻥَ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺯِﻳَﺎﺩَﺓٍ ﻋَﻠَﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻫُﻮَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉِ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﺍﻟَّﺘِﻲْ ﻳُﺜَﺎﺏُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺻَﺎﺣِﺒُﻬَﺎ ﻟِﻤَﺎ ﻓِﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺗَﻌْﻈِﻴْﻢِ ﻗَﺪْﺭِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﻭَﺇِﻇْﻬَﺎﺭِ ﺍﻟْﻔَﺮَﺡِ ﻭَﺍﻻﺳْﺘِﺒْﺸَﺎﺭِ ﺑِﻤَﻮْﻟِﺪِﻩِ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻒِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . ﻭَﺃَﻭَّﻝُ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﺫﻟِﻚَ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺇِﺭْﺑِﻞ ﺍﻟْﻤَﻠِﻚُ ﺍﻟْﻤُﻈَﻔَّﺮُ ﺃَﺑُﻮْ ﺳَﻌِﻴْﺪٍ ﻛَﻮْﻛَﺒْﺮِﻱْ ﺑْﻦُ ﺯَﻳْﻦِ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﺑُﻜْﺘُﻜِﻴْﻦ ﺃَﺣَدُ اﻟْﻤُﻠُﻮْﻙِ ﺍﻷَﻣْﺠَﺎﺩِ ﻭَﺍﻟْﻜُﺒَﺮَﺍﺀِ ﻭَﺍﻷَﺟْﻮَﺍﺩِ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺁﺛﺎَﺭٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻋَﻤَّﺮَ ﺍﻟْﺠَﺎﻣِﻊَ ﺍﻟْﻤُﻈَﻔَّﺮِﻱَّ ﺑِﺴَﻔْﺢِ.ﻗَﺎﺳِﻴُﻮْﻥَ
Artinya:
“Menurutku: pada dasarnya peringatan maulid; berupa berkumpulnya orang, membaca al Qur'an, meriwayatkan hadits-hadits tentang permulaan sejarah Nabi dan tanda- tanda yang mengiringi kelahirannya, kemudian disajikan hidangan lalu dimakan dan bubar setelahnya tanpa ada tambahan-tambahan lain, adalah termasuk bid'ah hasanah yang pelakunya akan memperoleh pahala, karena itu merupakan perbuatan mengagungkan Nabi dan menampakkan rasa gembira dan suka cita dengan kelahiran Nabi yang mulia. Orang yang pertama kali merintis peringatan maulid ini adalah penguasa Irbil, Raja al Muzhaffar Abu Sa'id Kawkabri ibnu Zainuddin ibnu Buktukin, salah seorang raja yang hebat, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun al Jami' alMuzhaffari di lereng gunung Qasiyun.”

Ibnu al-Jauzi (508 H-597 H) ~rahimahullah~ berkata tentang Maulid Nabi:

ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺻﻪ ﺃﻧﻪ ﺃﻣﺎﻥ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻌﺎﻡ ﻭﺑﺸﺮﻯ ﻋﺎﺟﻠﺔ ﺑﻨﻴﻞ ﺍﻟﺒﻐﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﺮﺍم
Artinya:
"Dari sebagian khasiat maulid adalah sesungguhnya orang yang merayakannya aman di tahun tersebut dan berbahagia seketika dengan memperoleh harapan dan keinginannya"

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani (773-852 H) sang pemimpin mukminin dalam bidang hadits ~rahimahullah~ berkata:

ﺃَﺻْﻞُ ﻋَﻤَﻞِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟِﺪِ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻟَﻢْ ﺗُﻨْﻘَﻞْ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮُﻭْﻥِ ﺍﻟﺜَّﻼَﺛَﺔِ، ﻭَﻟﻜِﻨَّﻬَﺎ ﻣَﻊَ ﺫﻟِﻚَ ﻗَﺪْ ﺍﺷْﺘَﻤَﻠَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺤَﺎﺳِﻦَ ﻭَﺿِﺪِّﻫَﺎ، ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﺤَﺮَّﻯ ﻓِﻲْ ﻋَﻤَﻠِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﺤَﺎﺳِﻦَ ﻭَﺗَﺠَﻨَّﺐَ ﺿِﺪَّﻫَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺑِﺪْﻋَﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً .” ﻭَﻗَﺎﻝَ: “ﻭَﻗَﺪْ ﻇَﻬَﺮَ ﻟِﻲْ ﺗَﺨْﺮِﻳْﺠُﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺻْﻞٍ ﺛَﺎﺑِﺖٍ وَهُوَ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيْحَيْن 
 Artinya:
“Asal peringatan Maulid adalah bid'ah yang belum pernah dinukilkan daripada (Ulama’) al- Salaf al-Saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian Peringatan Maulid mengandung kebaikan dan lawannya (keburukan), jadi barangsiapa dalam Peringatan Maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid`ah hasanah”. Al- Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan Peringatan Maulid di atas dalil yang thabit (Shahih), yaitu hadits (yang termaktub) dalam Shahihain (Bukhari & Muslim):

  مِنْ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ اليَهُوْدَ يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوْا هُوَ يَوْمٌ أَغْرَقَ اللهُ فِيْهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى مُوْسَى فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ شُكْرًا للهِ تَعَالَى، فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ للهِ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إِسْدَاءِ نِعْمَةٍ أَوْ دَفْعِ نِقْمَةٍ، وَيُعَادُ ذلِكَ فِي نَظِيْرِ ذلِكَ اليَوْمِ مِنْ كُلِّ سَـنَةٍ، وَالشُّكْرُ للهِ يَحْصُلُ بِأَنْوَاعِ العِبَادَةِ كَالسُّجُوْدِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ وَالتِّلاَوَةِ، وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنَ النِّعْمَةِ بِبُرُوْزِ هذَا النَّبِيِّ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ فِي ذلِكَ اليَوْمِ
Artinya:
“Bahwasanya ketika Nabi SAW sampai di Madinah (pada permulaan Hijrah), maka beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Dzulhijjah). Nabi lantas bertanya kepada mereka, mereka-pun menjawab: hari itu adalah hari di mana Allah tenggelamkan Fir’aun dan Allah selamatkan Musa, maka kami berpuasa pada hari itu sebagai bentuk syukur kita kepada Allah. Maka dipahami dari hadits ini melakukan perbuatan syukur atas anugerah yang diberikan Allah pada hari tertentu; baik berupa datangnya nikmat atau ditolaknya bahaya, dan itu diulang di setiap hari yang sama dari setiap tahunnya, bersyukur kepada Allah terlaksana dengan berbagai bentuk ibadah seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al Qur’an. Dan sudah maklum adakah nikmat yang lebih agung dari nikmat munculnya Nabi pembawa rahmat ini pada hari tersebut."

Al-Imam as-Sakhowi (831 H - 902 H) ~rahimahullah~ berkata tentang maulid Nabi:

ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﻭﻥ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺣﺪﺙ ﺑﻌﺪُ, ﺛﻢ ﻻ ﺯﺍﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻣﻦ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻷﻗﻄﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﺪﻥ ﻳﻌﻤﻠﻮﻥ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﻭﻳﺘﺼﺪﻗﻮﻥ ﻓﻲ ﻟﻴﺎﻟﻴﻪ ﺑﺄﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻭﻳﻌﺘﻨﻮﻥ ﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻮﻟﺪﻩ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ، ﻭﻳﻈﻬﺮ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﻛﻞ ﻓﻀﻞ ﻋﻤﻴﻢ 
Artinya:
"Tiada seorang pun dari kalangan as-Salaf as-Shalih pada kurun ketiga islam yang melaksanakan Maulid Nabi, melainkan ini terjadi setelahnya. Hingga tiada hentinya umat islam dari seluruh dunia melaksanakan Maulid. Mereka bersedekah di malam harinya dengan bermacam sedekah dan mengisi dengan membacakan sejarah kelahiran Nabi Mulia. Dan nampaklah kepada mereka keberkahannya pada setiap keutamaan yang merata."

Ibnu al-Haajj al-Malikiy (w. 737 H) ~rahimahullah~ berkata:

ﻓﻜﺎﻥ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻧﺰﺩﺍﺩ ﻳﻮﻡ ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮ ﻓﻲ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﻭﺍﻟﺨﻴﺮ ﺷﻜﺮﺍ ﻟﻠﻤﻮﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺃﻭﻻﻧﺎ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﺍﻟﻌﻈﻴﻤﺔ ﻭﺃﻋﻈﻤﻬﺎ ﻣﻴﻼﺩ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ " ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻳﻀﺎ " ﻭﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻤﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﺑﻠﻴﻠﺔ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ
Artinya:
"Wajib adanya bagi kita di hari senin 12 Rabiul Awwal untuk memperbanyak ibadah dan beramal baik, dengan tujuan bersyukur kepada Allah yang telah memelihara kenikmatan ini pada kita, dan sebesar-besarnya nikmat adalah lahirnya Nabi Pilihan SAW." Beliau berkata pula, "Dari sebagian pengagungan terhadap Nabi SAW adalah berbahagia terhadap malam kelahiran Nabi dan membaca maulid (sejarah Nabi)."

Ibnu Abidin (1198 H - 1252 H) ~rahimahullah~ berkata:

ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻤﺤﻤﻮﺩﺓ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻭﻟﺪ ﻓﻴﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ " ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻳﻀﺎ " ﻓﺎﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻟﺴﻤﺎﻉ ﻗﺼﺔ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺍﺕ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻭﺃﻛﻤﻞ ﺍﻟﺘﺤﻴﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﻋﻈﻢ ﺍﻟﻘﺮﺑﺎﺕ ﻟﻤﺎ ﻳﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺍﺕ ﻭﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ "
Artinya:
"Ketahuilah! Bahwa dari sebagian bid'ah terpuji adalah pelaksanaan Maulid Nabi Mulia di bulan kelahirannya." Kemudian ia berkata pula, "Berkumpul untuk mendengarkan kisah Nabi Sang Pemilik Mukjizat adalah sebagian dari sebesar-besarnya pendekatan terhadap apa yang menjadi mukjizatnya, dan memperbanyak shalawat."

Al-Hafidz Abdurrahim al-'Iraaqi (725 H – 806 H) ~rahimahullah~ berkata:

ﺇﻥ ﺍﺗﺨﺎﺫ ﺍﻟﻮﻟﻴﻤﺔ ﻭﺇﻃﻌﺎﻡ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻭﻗﺖ ﻓﻜﻴﻒ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﻀﻢ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﻭﺍﻟﺴﺮﻭﺭ ﺑﻈﻬﻮﺭ ﻧﻮﺭ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻭﻻ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻦ ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺪﻋﺔ ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻜﺮﻭﻫﺎ ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺑﺪﻋﺔ ﻣﺴﺘﺤﺒﺔ ﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﻭﺍﺟﺒﺔ
Artinya:
"Mengadakan walimah dan memberi makan sangat di sunnahkan di setiap waktu, bagaimana jikalau berkumpul kebahagiaan dan kesenangan dari hal tersebut dengan lahirnya nur muhammad SAW di bulan mulud mulia ini, dan tidak semua bid’ah itu di benci, berapa banyak bid’ah sangat di anjurkan oleh syariat bahkan terkadang menjadi wajib."

Imam Abu Syamah (599 - 665 H) yang merupakan guru Imam Nawawi berkata:

ﻭَﻣِﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦِ ﻣَﺎ ﺍﺑْﺘُﺪِﻉَ ﻓِﻲْ ﺯَﻣَﺎﻧِﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻛُﻞَّ ﻋَﺎﻡٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻤُﻮَﺍﻓِﻖِ ﻟِﻴَﻮْﻡِ ﻣَﻮْﻟِﺪِﻩِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺇِﻇْﻬَﺎﺭِ ﺍﻟﺰِّﻳْﻨَﺔِ ﻭَﺍﻟﺴُّﺮُﻭﺭِ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﻊَ ﻣَﺎ ﻓِﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍْﻹِﺣْﺴَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻔُﻘَﺮَﺍﺀِ ﻣُﺸْﻌِﺮٌ ﺑِﻤَﺤَﺒَّﺔِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺗَﻌْﻈِﻴْﻤِﻪِ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺐِ ﻓَﺎﻋِﻞٍ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﺷُﻜْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻣَﻦَّ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﺇِﻳْﺠَﺎﺩِ ﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺃَﺭْﺳَﻠَﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ
Artinya:
"Diantara bid’ah yang paling baik pada zaman kita ini, yaitu peringatan yang dikerjakan tiap tahun pada hari bertepatan lahirnya junjungan kita Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, berupa sedekah dan perbuatan baik, dan menampakkan hiasan serta kegembiraan, karena hal tersebut beserta yang ada di dalamnya berupa melakukan perbuatan baik terhadap para fakir miskin, menunjukkan rasa mahabbah kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengagungkan beliau di hati orang yang mengerjakannya, dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang Dia anugerahkan berupa mewujudkan Rasul-Nya yang diutus-Nya sebagai rahmat bagi semua makhluk."

As-Syihab Ahmad al-Qostholani (851 H- 923 H) ~rahimahullah~ berkata:

ﻓﺮﺣﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻣﺮﺃ ﺍﺗﺨﺬ ﻟﻴﺎﻟﻲ ﺷﻬﺮ ﻣﻮﻟﺪﻩ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﺃﻋﻴﺎﺩﺍً ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺃﺷﺪ ﻋﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﻣﺮﺽ ﻭﺇﻋﻴﺎﺀ ﺩﺍء
Artinya:
“Maka Allah akan memberikan rahmat bagi orang-orang yang menjadian Maulid Nabi yang penuh berkah sebagai perayaan, sehingga ia menjadi penyembuh terkuat bagi orang yang sakit hatinya dan letih oleh penyakit”

Al-Hafidz Ibnu Katsir (701 H - 774 H) dalam kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah juz 5 & 6 menuturkan tentang Maulid Nabi SAW sebagaimana berikut:

ﻭﻗﺪ ﺃﻭﺭﺩ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻫﺎﻫﻨﺎ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻏﺮﻳﺒﺎ ﻣﻄﻮﻻ ﺑﺎﻟﻤﻮﻟﺪ ﺃﺣﺒﺒﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺴﻮﻗﻪ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺍﻟﺨﺘﺎﻡ ﻧﻈﻴﺮ ﺍﻻﻓﺘﺘﺎﺡ ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﺎﻥ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺘﻜﻼﻥ، ﻭﻟﻠﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ
Artinya:"Abu Nu'aim disini telah menuturkan satu hadits gharib panjang tentang maulid. Aku ingin menyampaikannya agar penutup menjadi paralel dengan pembuka. Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan dan terhadapnya kami bertawakal. Segala puji hanya milik Allah."

  ﻭﻫﻠﻚ ﺃﺑﻮﻩ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻓﻲ ﺑﻄﻦ ﺃﻣﻪ ﻓﻘﺎﻟﺖ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ : ﺇﻟﻬﻨﺎ ﻭﺳﻴﺪﻧﺎ ﺑﻘﻲ ﻧﺒﻴﻚ ﻫﺬﺍ ﻳﺘﻴﻤﺎ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ :ﺃﻧﺎ ﻟﻪ ﻭﻟﻲ ﻭﺣﺎﻓﻆ ﻭﻧﺼﻴﺮ ﻭﺗﺒﺮﻛﻮﺍ ﺑﻤﻮﻟﺪﻩ ﻓﻤﻮﻟﺪﻩ ﻣﻴﻤﻮﻥ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﻭﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻤﻮﻟﺪﻩ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻭﺟﻨﺎﻧﻪ
Artinya:
“Ayah Nabi Muhammad wafat ketika beliau berada dalam kandungan. Maka malaikat berkata (kepada Allah): "Tuhanku Bagindaku, kini Nabi-Mu yatim". Allah berkata: "Aku adalah pemelihara, penjaga, dan penolong baginya. Ambillah berkah dengan kelahirannya, karena kelahirannya adalah keberuntungan yang berkah. Dan Allah membukakan pintu langit serta surga-Nya untuk kelahiran Nabi Muhammad.“
***
Rifqi Marzooqie
PP Assalafiyyah Mafazah, 17/12/15

Tulisan ini memiliki 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post