Keutamaan Bismillah dan Wanita Bersuami Munafik [Kisah]

author photo
Wanita Bersuami Munafik

Dakwah.web.id, KISAH ~ Diceritakan, ada seorang wanita yang rajin membaca bismillah di setiap urusanya. Ia senantiasa membaca bismillah dalam setiap hal, baik saat akan berbicara maupun sebelum melakukan berbagai aktifitas.

Namun sayang, dalam kehidupan sehari-hari ia memiliki sosok pendamping munafik. Ia memiliki seorang suami yang suka mencari-cari kesalahan sang istri.

Suatu ketika, sang suami merencanakan sesuatu yang akan sangat membuat sang istri merasa malu. Ia memberi sebuah bungkusan kepada sang istri. Dan ia memerintahkannya untuk menjaga dan memperhatikan bungkusan tersebut agar jangan sampai hilang. "Tolong jaga bungkusan ini baik-baik!"

Maka sang istri pun menyimpannya di suatu tempat. Ia menutup bungkusan tersebut agar aman.

Namun, ternyata sang suami melakukan sebuah pengkelabuan. Diam-diam ia mengambil bungkusan yang telah disimpan oleh sang istri lantas membuangnya ke sumur yang ada di rumah. Hingga pada beberapa saat kemudian ia meminta kepada sang istri untuk dibawakan bungkusan yang ia titipkan sebelumnya.

Tanpa rasa curiga sang istri lantas beranjak menuju tempat dimana ia menaruh bungkusan tersebut. Lantas ia dahulukan dengan membacakan basmallah terlebih dahulu sebelum mengambilnya. "bismillahirrahmanirrahiim..."

Keutamaan bismillah

Atas izin dan perintah Allah Yang Maha Rahman, bungkusan yang sebelumnya dibuang oleh sang suami dikembalikan lagi oleh Malaikat Jibril ke tempat asalnya semula. Sehingga ketika si istri mengambil bungkusan tersebut ia masih menemukannya secara utuh. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Sang istri lantas mendatangi sang suami dan menyerahkan bungkusan yang ia titipkan.

Betapa terkejutnya sang suami. Ia kaget luar biasa atas apa yang ia saksikan. Bungkusan yang ia buang ke sumur entah kenpa masih ada. Keterkejutannya ini lantas membuat dirinya bertaubat.
~ Subhanallah ~
***
#Fadilah membaca bismillah
(Disarikan dari kitab: Uquud al-Lizain fi bayaani huquuq al-zaujain hlm. 1, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

Tulisan ini memiliki 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post