Type something and hit enter

author photo
By On
Menjadi Muslim Yang Tidak Mudah Dipecah Belah

Dakwah.web.id ~ Terkadang kita rindu masa-masa dimana kita hidup beragama dengan rukun, tenang dan damai. Tidak seperti sekarang ini, beragama entah kenapa terasa sulit dan ribet. Umat islam saat ini terasa gaduh dan rusuh dengan dibentur-benturkan pada fitnah dan perecahan. Sehingga kita patut was-was dan sadar diri dengan menyikapi segala sesuatu secara bijak dan mengembalikan pada hati nurani yang bersih tanpa dibarengi rasa dengki dan dusta.

Dulu, pada masa dimana media informasi belum kelewat batas seperti sekarang ini, beragama itu terasa menyenangkan, terasa tenang, tentram dan damai. Umat islam beribadah dan beramal shalih secara nikmat, penuh dengan penghayatan. Di kampung, di kota, di mana pun kita berada, kesatuan dan persatuan dalam semangat dan ukhuwah keislaman nampak begitu nyata. Orang-orang akan saling sapa, saling tegur, dan saling rangkul tanpa ada rasa curiga.

Beda dengan sekarang saat dimana media informasi mulai merebak sekitar 2007-an. Saat teknologi informasi dibuka selebar-lebarnya dan dapat dimasuki oleh banyak orang dari berbagai macam golongan, tingkatan, hingga tujuan. Adanya kemajuan teknologi informasi bukan malah memunculkan dominasi persatuan dan kesatuan, melainkan tema perpecahan dan kebencian yang setiap hari kita dengarkan.

Setiap orang seolah digiring untuk saling curiga, saling benci, dan saling bunuh. Dari anak kecil hingga tua renta, pun terus disuapi hidangan informasi yang penuh kebusukan. Mirisnya sebagian banyak diantaranya berdiri diatas tema agama, termasuk keislaman.

Di Indonesia misalnya. Tema-tema klasik dalam nuansa khilafiyyah bermunculan. Saling tuduh kafir, syirik, bid'ah, khurafat, sesat, atau bahkan kemudian menggiring pada budaya saling bermusuhan, perpecahan, dan intoleranisme antar sesama saudara. Parahnya bila kemudian orang yang bersebrangan dihalalkan darahnya untuk mengalir. Kepala ditebas. Bom diledakan. Dan nyatalah kehancuran. Apakah demikian islam mengajarkan? Tentu jawabannya tidak.

Pedahal, jelaslah al-Qur'an dan as-Sunnah adalah tempat kita mengadu atas segala kebodohan kita selama ini. Ia adalah sebaik-baiknya rujukan. Tapi, anehnya, kita juga sering menemukan perpecahan dengan klaim paling qur'ani dan paling nyunnah. Dimana dalil al-Qur'an dan as-Sunnah dikambing hitamkan hanya untuk sekedar menambah kehancuran. Masing-masingnya saling melempar ayat, saling merasa benar, dan saling klaim atas nama islam, untuk kemudian saling penggal dan saling makan.

Lantas kenapa bila masing-masingnya sama-sama fasih dalam membaca al-Qur'an, pintar dalam mengutip hadits, jago dalam mengambil qaul-qaul ulama, tapi malah tidak tentram dan justru malah saling merusak? Tanya kenapa. Tidak lain dan tidak bukan karena rasa ego dan dengki. Kebenaran al-Qur'an serta cahaya yang ada di dalamnya tertutupi oleh hati yang kotor. Sehingga cahaya kebenaran yang begitu nyata tidak bisa tembus untuk menyentuh sanubari terdalam. Sanubari yang suci yang hanya ada pada orang-orang yang mengikis rasa dengki.

Temen-temen satu aqidah yang saya sayangi dan semoga dirahmati Allah..

Hendaknya kita tidak terpancing untuk terperosok dalam jurang-jurang perpecahan. Perbaiki diri dengan senantiasa mengaji nilai-nilai keislaman. Pun nilai-nilai kemanusian. Jika seandainya nilai-nilai keislaman masih juga tidak mampu membuatmu menjadi sosok yang shalih, toleran, dan ramah. Maka nilai-nilai kemanusiaan rasanya menjadi alasan mengapa kamu harus berbuat selayaknya manusia.

Bukan hanya dengan orang-orang yang satu aqidah dalam aqidah ahlu sunnah wal jama'ah saja, melainkan juga dengan firqoh lain, agama lain, budaya lain, bangsa lain, ras yang yang lain, serta perbedaan yang lain.

Pesan ini ditujukan untuk semua kalangan. Baik sunni, syiah, wahabi, budha, kristen, tionghoa, sunda, jawa, pemuda, orang tua, dan lainnya, hendaknya kita mengutamakan kemanusiaan. Terkhusus untuk umat islam, mari sama-sama berusaha menjadi pribadi yang muslim kaaffah.

Allah telah menciptakan kita berebeda-beda. Namun tetap dalam kesamaan dengan predikat sebagai makhluk dihadapan-Nya. Sedangkan derajat keluhuran adalah pada ketakwaan kita kepada Allah. (rm)
Post a Comment
Click to comment