Dr KH Said Aqil Siradj Masuk Dalam 500 Muslim Berpengaruh Dunia

author photo
Dr KH Said Aqil Siradj Masuk Dalam 500 Muslim Berpengaruh Dunia
Dakwah.web.id ~ Dr. KH. Said Aqil Siradj yang merupakan ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali masuk dalam deretan muslim paling berpengaruh di dunia. Ini adalah kesekian kalinya beliau masuk dalam daftar 500 muslim paling berpengaruh dunia versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre Yordania.

Sebagaimana dirilis dalam themuslim500.com, Dr. KH. Said Aqil Siradj menduduki posisi ke-18 dalam deretan 500 muslim berpengaruh dunia tahun 2016. Beliau memimpin organisasi muslim terbesar yang memiliki pengaruh sangat luar biasa di kancah internasional, yaitu Nahdlatul Ulama. "Dr KH Said Aqil Siradj adalah pemimpin organisasi Muslim independen terbesar di Indonesia dan juga merupakan salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di dunia, Nahdlatul Ulama (NU), atau 'Kebangkitan Ulama'. Siradj memandu jutaan melalui karyanya dengan NU", Tulis themuslim500.com dalam lamannya.


Masuknya Dr. KH. Said Aqil Siradj dalam deretan muslim paling berpengaruh dunia tidak lepas dari peran dari Nahdlatul Ulama yang memiliki pengaruh besar. Di Indonesia mayoritas muslim mengikuti faham ahlusunnah wal jama'ah yang direferesentasikan melalui Nahdlatul Ulama. NU memiliki jaringan dari pusat sampai ke tingkat ranting atau desa serta melakukan perluasan cabang di luar negeri dimana banyak anak NU yang belajar di berbagai universitas atau bekerja di berbagai institusi.

Selain Dr KH Said Aqil Siradj, beberapa tokoh muslim Indonesia lainnya yang masuk dalam daftar 500 muslim berpengaruh dunia adalah Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo atau biasa akrab dengan sapaan Jokowi. Beliau menempati urutan ke-11 muslim berpengaruh dunia. Ada pula Prof Dr M Din Syamsudin yang pernah menjabat sebagai pimpinan pusat Muhammadiyah menempati urutan ke-44, serta Habib Luthfi bin Yahya yang merupakan ulama thariqah Indonesia yang menempati urutan ke-48.

Berikut adalah keterangan keberpengaruhan Dr KH Said Aqil Siradj yang diterjemahkan melalui google translate:
Kepala Jaringan Ekspansi: Nahdlatul Ulama menawarkan sebuah jaringan luas yang mencakup 30 daerah dengan 339 cabang, 12 cabang istimewa, 2630 dewan perwakilan serta 37.125 dewan perwakilan sub-cabang di seluruh Indonesia. Jaringan ini memegan teguh faham Ahlassunah wal Jama'ah, yang dalam bahasa Arab dengan sunni yakni 'orang-orang yang mengikuti Sunnah (praktik Nabi Muhammad) beserta para jama'ah'. Mereka mendasarkan gerakan mereka pada sumber tradisional yurisprudensi-terutama Islam Al-Qur'an, Hadits, dan sekolah utama hukum. Di antara tujuan-tujuannya adalah penyebaran pesan Nahdlatul Ulama dan juga perluasan jaringan yang sudah luas dari anggota di Indonesia. Ini adalah dasar dari banyak upaya reformasi sosial organisasi. Dengan struktur yang solid tingkatan pusat dan daerah, cabang dan papan cabang khusus, dan berbagai dewan penasihat, Siradj duduk di atas gerakan Sunni semakin berpengaruh ini.

Model tradisionalisme: Dengan basis keanggotaan terutama di pedesaan, Nahdlatul Ulama membedakan dirinya dari organisasi Islam lainnya di Indonesia dengan memposisikan diri sebagai organisasi utama Islam-dengan tradisional penekanan pada pendidikan dan keterlibatan politik berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

Layanan Sosial: Nahdlatul Ulama telah membuat kontribusi amal besar untuk masyarakat Indonesia di bidang pembangunan pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan. Siradj, seperti para pendahulunya, merambat Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang diarahkan untuk membangun bangsa-negara sekuler berdasarkan tubuh modern dan moderat Muslim-dengan agenda seperti undang-undang anti-korupsi dan langkah-langkah reformasi sosial yang mendalam berakar dalam prinsip-prinsip Islam.

Human Rights Aktivisme: Sebelum perannya sebagai ketua Nahdlatul Ulama, Siradj bertugas di Komisi Nasional Indonesia untuk Hak Asasi Manusia. Hanya beberapa minggu ke posisinya sebagai ketua partai politik Islam terbesar di negara itu, dan setelah bentrokan meletus di gereja-gereja yang berbeda di seluruh negeri, Siradj membuat pernyataan yang kuat mengutuk diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas Kristen di Indonesia.

Reformasi pendidikan: Siradj memiliki latar belakang akademis yang luas dalam ilmu-ilmu Islam, dan menganggap pendidikan sebagai alat untuk pembangunan. Ia mendirikan Said Aqil Pusat di Mesir, pusat studi yang berfokus pada pengembangan wacana Islam, khususnya di Dunia Arab.
(rm)

Tulisan ini memiliki 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post