Type something and hit enter

author photo
By On
Dakwah.web.id ~ Berbicara tentang kastrol dan kaitannya dengan santri, entah kenapa keduanya seperti sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Seperti sejoli yang berjalan mesra sambil bergandengan tangan. Sebabnya? Entah kenapa kastrol seolah sudah menjadi sebuah paradigma dalam kehidupan para santri di pesantren. Terutama di pesantren-pesantren salafiyyah (tradisional) yang mengedepankan kesederhanan dalam mendidik para santrinya.

Tentunya kita pasti tahu kastrol? Alat memasak yang biasa digunakan untuk membuat nasi liwet. Terbuat dari besi, mirip panci, namun ukurannya lebih tebal dan agak berat. Alat pegangnya pun tidak dengan telinga layaknya panci, namun menggunakan kawat memanjang yang memudahkan untuk dijingjing. Itulah kastrol.


Seputar Santri, Kastrol, nasi liwet
Seputar Santri, Kastrol, dan Gereget Hidup di Pesantren

Sehari-hari, santri memang memasak menggunakan kastrol. Dan ini sudah berlangsung sejak lama. Mungkin sudah ratusan tahun. Sehingga kastrol beserta nasi liwetnya sudah sangat dekat dengan santri. Keduanya memiliki tempat tersendiri di hati para santri. Dari masa ke masa, setiap santri pasti punya cerita, tentang kastrol, tentang memasak, dan tentang hari-hari yang dihabiskan bersama teman satu pondok sambil nongkrong di depan tungku sekedar menunggu nasi yang matang untuk dimakan guna menyambung hidup di pondok. Duh. Tidak heran jika kemudian para santri sering menamakan diri mereka sebagai kaum kastrologi.

Walau kini, banyak pesantren yang mulai mengubah pola dan aturan makan para santrinya. Beberapa pesantren sudah menerapkan aturan makan yang siap saji. Atau jika pun harus memasak, para santri kini sudah menggunakan magic com atau sebagainya. Sehingga tradisi masak "ngaliwet" menggunakan kastrol sudah mulai ditinggalkan.

Pedahal, kastrol sudah sangat melekat sebagai identitas para santri. Sangat sayang bila kemudian kastrol dan nasi liwetnya menjadi bias tergerus perubahan zaman, lantas menghilang dan lenyap dari dunia kesantrian. Bahkan nilai-nilai serta berbagai hikmah dari pendidikan yang ditanamkan melalui filosofi memasak akan hilang. Sebab, santri yang memasak dengan kastrol sejatinya bukan hanya sekedar urusan perut, melainkan sebagai penanaman kemandirian, kerja keras, dan kebersamaan yang dibangun di antara para santri.

Bahkan, kemampuan memasak terkadang menjadi tolak ukur untuk seberapa mapankah seorang santri hidup di pondok. Sebab, jika seorang santri masih gagal dalam memasak, maka ia akan dipertanyakan alur kesantriannya. Bisa jadi setelah ia keluar dari pondok pun akan disuruh mondok lagi apabila ia masih gagal dalam memasak, terkhusus memasak nasi liwet menggunakan kastrol. Karena dalam dunia pesantren type tradisional, disamping telah mampu dalam bidang keilmuan, seorang santri sejatinya adalah ia yang telah sempurna mencicipi proses-proses masaqat, yakni proses hidup sulit dan sederhana, yang diantarnya adalah mampu memasak dengan mandiri setiap hari.

Ya, begitulah, kastrol akan senantiasa menjadi bagian dari cerita para santri saat mondok di pesantren. Tak heran jika kemudian banyak alumni pesantren termasuk para Kiyai sangat berkaca-kaca jika mengenang cerita masa lalunya saat di pondok. Dan kastrol adalah bagian dari cerita dan sejarah yang mengiringi perjalanan masa-masa menuntut ilmu mereka. (RM)
Post a Comment
Click to comment