Shalat Menempelkan Kaki? Salafi Wahabi di Indonesia

author photo
Shalat menempel kaki

Dakwah.web.id - Jika di Markas Salafi sholat dengan kaki tidak menempel, celana isbal, kemudian tangan di sekitar pusar, berarti Salafi Indonesia tidak berkiblat ke Arab. Tapi merujuk kepada buku "Sifat Sholat Nabi yang dibuat oleh Syekh Albani yang disosialisasikan oleh Yazid Jawaz.

Di Arab Saudi, cara sholat Wahabi sepertinya masih diwarnai oleh mazhab Hambali. Pakaiannya juga begitu.

Syekh Albani ini lahir di Albania tahun 1914 kemudian pindah ke Damaskus Suriah. Menjadi tukang servis jam hingga umur 20 tahun, kemudian membaca berbagai kitab hadits di perpustakaan (tanpa guru). Dari situlah Albani dikenal sbg Ahli hadits, kemudian menulis kitab "Sifat Sholat Nabi". Padahal Imam Bukhari dan Imam Muslim saja yang merupakan pakar hadits abad 3 Hijriyah mengikuti mazhab Syafi'ie dan sholat sebagaimana cara yang dilakukan Imam Syafi'ie yang insya Allah selain dari hadits juga meniru sholat cucu sahabat, anak sahabat, dan sahabat Nabi.

Nah Albani ini membuat sendiri kitab cara sholat langsung dari hadits. Tidak melalui Imam Mazhab lagi. Sehingga cara sholat wanita dengan pria sama. Kemudian para pria mencari jari kelingking kaki untuk ditempel. Padahal menurut hadits: bahu, dengkul, dan mata kaki. Cara sholat ini yang mulai marak di Indonesia ternyata beda dgn cara sholat di Mekkah. Dan memang saat saya ke Arab Saudi tahun 1983 dan 2011, belum pernah saya merasakan orang mencari2 kaki orang lain saat sholat. Padahal saya sempat sholat arba'in (40 waktu) secara berjama'ah di Masjid Nabawi. Saat di Mekkah juga dari Subuh hingga Isya selalu berjama'ah.

Albani meski sempat diundang mengajar di Arab Saudi, namun akhirnya ribut dgn tokoh2 Wahabi di Arab Saudi sehingga tahun 1963 terpaksa meninggalkan Arab Saudi.

Mumpung pencari kaki belum banyak, sengaja saya tulis ini agar tidak mewabah. Jika sudah terlanjur banyak, khawatirnya dianggap benar.

Ini video Syekh Sudaisy lagi sholat:

Syekh Albani:
After a number of his works appeared in print, he was invited to teach Hadith at the Islamic University of Madinah by the University's then-vice president, Abd al-Aziz ibn Baz. Shortly upon his arrival, Albani's anti-traditionalist stances in Muslim jurisprudence angered the Wahhabi elite in Saudi Arabia, who were alarmed at Albani's intellectual challenges to the ruling Hanbali school of law but unable to challenge him openly due to his popularity.[6] When Albani authored a book in support of his view that the Niqab, or full face-veil, was not a binding obligation upon Muslim women, he caused a minor uproar in the country and gave his opponents justification for allowing his contract with the university to lapse without renewal.[6] In 1963, he left Saudi Arabia and returned to his studies and work in the Az-Zahiriyah library, leaving his watch shop in the hands of one of his brothers.[4]

Nabi Tidak Memerintahkan Menempel Kaki Saat Sholat Berjama’ah

Cara berpakaian Wahabi di Indonesia juga umumnya aneh. Dgn baju sampai ke paha dan pakai celana cingkrang, Indonesia bukan, Arab juga bukan. Sepertinya gaya Pushtun / Pakistan.
***

Rifqi/Agus Nizami

Tulisan ini memiliki 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post