Membaca Al-Qur'an Dengan Lagam Jawa Menurut Habib Luthfi

author photo
Membaca Al-Qur'an Dengan Lagam Jawa Menurut Habib Luthfi
Habib Luthfi bin Yahya

Dakwah.web.id - Beberapa waktu yang lalu kita sempat dihebohkan dengan pemberitaan tentang pembacaan Al-Qur'an menggunakan lagam jawa yang dibacakan oleh Yasir Arafat di istana negara. Dimana sebagian umat muslim merasa aneh dengan hal tersebut karena memang tidak biasa diperdengarkan di Indonesia. Banyak pro dan kontra dari sebagian umat islam yang ada di Indonesia. Beberapa diantaranya ada yang memperbolehkan dan ada pula yang melarang dengan keras.

Sebenarnya ikhtilaf dikalangan ulama adalah hal yang wajar. Karena ini merupakan bagian dari keindahan islam dalam menyikapi berbagai permasalahan yang muncul seiring dengan perkembangan waktu dan zaman. Mereka para ulama, berfikir dengan keilmuan dan pemikiran yang jernih. Sehingga perbedaan pandangan pun tidak menjadi sebuah kerusuhan dengan sikap husnudhon saling menghargai. Yang jadi permasalahan adalah pada kita sebagai orang awwam yang selalu memperbesar hal-hal yang semestinya disikapi secara dingin.

Bahkan sebagian dari orang yang tidak bertanggung jawab mamnfaatkan masalah ini kedalam masalah politik. Sebagian ada yang menyangkut paut dengan tujuan menjatuhkan Jokowi sebagai presiden. Menggunakan tameng agama untuk kepentingan politik sehingga malah terkesan memperlebar hal yang sebenarnya murni bahasan fiqihnya para ulama.

Dari sebagian ulama panutan yang berkomentar tentang permasalah pembacaan Al-Qur'an dengan menggunakan lagam jawa adalah Maulana Habib Luthfi bin Yahya seorang sufi dan pembesar ahli thoriqah. Sebagaimana dikutip dari habibluthfi.net, beliau ditanya oleh Mayor Agus Kodiklat Bandung pada Selasa (02/06/15) pagi, tentang permasalahan pembacaan al-Quran dengan langgam Jawa pada saat Isra Mi’raj di Istana Negara beberapa waktu lalu.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya menjawab: "Membaca al-Quran yang penting terjaga mad (tajwid)-nya, makhrajnya. Rasulullah saw memerintah membaca al-Quran dengan suara baik.

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Artinya: "Perindahlah Al Qur'an dengan suara kalian." (HR. Abu Dawud)

Contohnya orang Sunda kalau membaca shalawat dan puji-pujian menggunakan dangdagula. Waktu dahulu saya mondok (mesantren) di Kuningan Kiai dan santri-santri membaca puji-pujian dan membaca al-Quran menggunakan langgam dangdagula. Seperti membaca pujian :

Ya Rabi bil-Musthafa balig maqashidana * waghfir lana ma madha ya wasi’a al-karami.

Di Sunda juga membaca dzikir la ilaha illa Allah juga memakai dangdagula. Menggunakan langgam Jawa selagi niatnya tidak mengejek (takhzi) tidak masalah. Saya kira untuk mengetahui ada motif mengejek atau tidak, dalam masalah ini kita bisa melihat pembacanya berasal dari institusi mana. Pembacanya dari UIN, kalau melihat UIN-nya saya kira tidak ada itu motif mengejek. 

Saya mendengarkan pembacaan al-Quran langgam Jawa di Istana Negara itu tidak ada masalah. Saya dengar bacaannya bagus.

Nah kalau melihat ini dari kacamata politik. Untuk saya no comment. Agaknya banyak yang memanfaatkan untuk menyerang Jokowi, seperti waktu dahulu banyak yang menyerang Gus Dur sebenarnya tujuannya untuk menyerang NU (Nahdhatul Ulama).

Sumber: habibluthfi.net

Tulisan ini memiliki 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post