Type something and hit enter

author photo
By On
Masyarakat Aceh Desak Pengelolaan Mesjid Raya Baiturrahman Sepenuhnya Ahlussunnah Wal Jamaah

Dakwah.web.id ~ Masyarakat aceh yang terdiri dari santri, ulama, dan segenap penduduk aceh mengecam masuknya faham salafi wahabi dalam pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman Aceh. Hal ini dianggap riskan karena mayoritas masyarakat aceh adalah sunni (ahlussunnah wal jama'ah) yang bermadzhab syafi'i. Sedangkan salafi wahabi adalah faham islam minoritas yang tidak memegang madzhab secara teguh. Selain itu, mereka pun tidak jarang sering membid'ahkan bahkan hingga mengkafirkan terhadap beberapa amaliyyah Ahlusunnah wal jama'ah. Apalagi secara emosional, salafi wahabi dikenal sebagai faham keras yang sering menimbulkan kontroversi di berbagai tempat dimana pun mereka berada. Hal ini berbeda dengan Ahlusunnah yang mengedepankan keislaman yang ramah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Pada hari Jumat (19/06/2015), santri dan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), serta Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA) mendatangi Masjid Raya Baiturrahman untuk menuntut pengelolaan kegiatan masjid sepenuhnya dilandaskan kembali sesuai tuntunan ahlusunnah wal jama'ah. “Kita ingin mengembalikan pelaksanaan Ibadah di Masjid Raya Baiturrahman sebagaimana kejayaan Aceh di masa Kerajaan Iskandar Muda, seusai dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah,” ujar Tgk. Bulqaini Tanjongan, Sekjen HUDA.

“Tiga tahun belakangan ini kita mengetahui adanya kelompok Wahabi di Mesjid Raya Baiturrahman yang diduga telah mengobok-obok manajemen Mesjid Raya Baiturrahman, sehingga hari ini kita ambil alih harus sesuai dengan Ahlus Sunnah Wal Jamaah,” kata Abu Pusong ketua FPI Banda Aceh yang juga turut hadir pada hari tersebut.

Semua pihak meminta kepada gubernur Aceh agar mengambil keputusan sesuai dengan keinginan masyarkat Aceh. Yakni kembalinya segala kegiatan peribadahan di Masjid Raya Baiturrahman dilandaskan dengan ajaran ahlusunnah wal jama'ah. Sebab, belakangan Gubernur Aceh malah cenderung memihak kepada pihak saafi wahabi dan mengesampingkan keinginan masyarakat Aceh.

Berikut ini adalah salah satu kabar yang diterbitkan oleh FP Seuramoe Mekkah :

GUBERNUR KEMBALI RAPATKAN BARISAN DENGAN DEDENGKOT WAHABI, FAKHRUDDIN LAHMUDDIN CS

Foto : Fakhruddin Lahmuddin cs Kembali Duduk Akrab dengan Gubernur memikirkan cara mengelabui RAKYAT ACEH dan mempertahankan eksistensi Wahabi di Mesjid Raya

Ketika Wali Nanggroe mencoba menyelesaikan permasalahan Mesjid Raya Baiturrahman dengan duduk bersama Ulama Aceh, Gubernur Aceh dan Imam Mesjid Raya Baiturrahman Prof. DR Azman Ismail MA justru tidak memenuhi undangan rapat itu. Sebaliknya, sang gubernur malah duduk akrab bersama dedengkot salafi wahabi, Fakhruddin Lahmuddin dan Akademisi Wahabi lainnya.

Kejadian ini telah menunjukkan bahwa betapa Gubernur bersikeras mempertahankan dinasti minoritas di Mesjid Raya Baiturrahman. Terlihat sudah siapa yang sebenarnya fanatik dan tidak toleran. Orang-orang ini (Fakhruddin Lahmuddin cs) dulunya selalu berlindung di balik jargon toleransi. Mereka menyerukan agar tidak mempersoalkan perkara sunat. Padahal, Giliran Rakyat Aceh bergerak, mereka lah yang mati-matian mempertahankan idenya dengan berbagai cara.

Doktrin bid'ah dan syirik telah membuat mereka berfikir radikal dengan menganggap amalan Mazhab Syafi'i sebagai perkara bid'ah yang tidak boleh dibiarkan.

Ulama Aceh sebenarnya sudah sangat lama bersabar dan menempuh jalan musyawarah untuk mengembalikan 'izzah dan marwah Mesjid Raya Baiturrahman. Namun, Pengurus MRB dan Gubernur Aceh selalu mempermainkan nasehat Ulama. Muzakarah Para Ulama seolah tidak ada harga bagi mereka, karena mereka menganggap komunitas Dayah adalah sekumpulan orang bodoh karena tidak ada titel apa-apa. Gubernur lebih percaya kepada Profesor dan Doktor untuk berkonsultasi masalah agama.

Selain Imam Besar Mesjid Raya yang berperan penuh mendirikan lembaga Wahabi, LIPIA atau Yayasan Khadimul Haramain, sosok yang tidak kalah pentingnya adalah FAKHRUDDIN LAHMUDDIN.

Fakhruddin Lahmuddin ini bermain sangat licik. Ia menjadi salah satu dari pembisik Gubernur Aceh dalam menentukan kebijakan tentang agama. Dia mampu melobi Pemerintah Aceh untuk mencairkan dana dalam menyukseskan kegiatan Wahabi.

Ketika melihat Mesjid Raya Baiturrahman sudah hampir dikembalikan kepada Aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan Mazhab Syafii, Fakhruddin Lahmuddin cs langsung bergerak cepat melakukan audiensi dengan Gubernur lewat pertemuan tadi malam. Mereka memberikan rekomendasi agar Ulama Aceh tidak memaksakan kehendak, padahal sebenarnya mereka lah yang memaksakan kehendak untuk mempertahankan hegemoni Wahabi di Mesjid Raya.

Melihat gencarnya upaya Wahabi dalam memainkan perannya, maka PERGANTIAN PENGURUS MESJID RAYA adalah HARGA MATI. Karena jika tidak, Meskipun tata laksana Jumat telah diikuti sesuai arahan Ulama, tetapi dalam hari-hari yang lain Mesjid Kebanggaan Rakyat Aceh akan dimanfaatkan sebagai corong penyebaran virus Wahabi.

Ulama Aceh memang tidak pernah meminta pergantian Pengurus, tetapi RAKYAT ACEH rindu Mesjid Raya diurus oleh Ulama. Kalau Pemerintah tidak menggubris, maka Jumat 26/6/2015 ini RAKYAT lah yang akan bergerak mengembalikan izzah dan marwah Mesjid Raya. Kami Rakyat Aceh sudah tidak tahan lagi melihat Ulama dipermainkan oleh Pengurus Mesjid Raya, Gubernur dan Para Pembisiknya.

CABUT SK KEPENGURUSAN MESJID RAYA SEKARANG! Itu HARGA MATI. Kami Rindu Mesjid Warisan Iskandar Muda ini diurus oleh Ulama meskipun mereka tidak pernah Meminta.

Bila sampai Jumat ini belum ada Pengumuman Resmi dari Pemerintah mengabulkan harapan kami, maka tunggulah RAKYAT yang akan berjuang mengembalikan 'IZZAH dan MARWAH Mesjid Kebanggaan Kami.
***

Rifqi/Seuramoe Mekkah 
Post a Comment
Click to comment