Kembali ke Pesantren Solusi Pendidikan Non-Monster #AyoMondok!

author photo
Ayo Mondok
'Omong kosong kalau kita ngomong kembali ke khittah kalau tidak kembali ke pesantren. Kembali ke pesantren bisa dalam artian fisik yakni mondok, atau dalam pengertian kembali kepada nilai, akhlaq dan jati diri pesantren' ~ KH. Said Aqil Siraj
Dakwah.web.id - Pesantren, siapa yang tidak tahu? Inilah surga pendidikan yang membimbing setiap penuntut ilmu didalamnya untuk senantiasa memiliki intelektual yang subur disertai budi pekerti yang luhur.

Dulu, dulu sekali, pesantren merupakan sebuah tempat yang menjadi rujukan utama bagi setiap orang yang menuntut ilmu di Nusantara ini. Orang-orang dulu, berbicara tentang pendidikan bukan malah mengatakan sekolah atau apalah, melainkan mondok di pesantren. Setiap orang tua akan merasa bangga bila telah memasukan anaknya ke pondok pesantren. Mereka malah rela bersusah payah, banting tulang, hanya untuk memperjuangkan dan membiayai anaknya mondok di pesantren. Dengan harapan, sang anak (yang merupakan "kanya'ah" kedua orang tua) bisa menjadi kemanfaatan bagi semesta alam. Minimal bisa shaleh dan berbakti kepada kedua orang tua, agama, dan bangsa, melalui pemahaman ilmu agama serta pembekalan tatakrama yang dibiasakan di pesantren.

Kini, entah siluman apa, entah monster yang bagaimana, sehingga pesantren kini mulai dinomor duakan. Setiap orang yang berbicara pendidikan pasti yang ketangkap di pemikirannya adalah lembaga sekolah. Yaaa, itu memang tidaklah salah, malahan bagus. Maksudnya, bagus dari segi cita-cita keilmuannya. Ilmu apapun selagi memberi kemanfaatan dan kemaslahatan tidak ada yang jelek. Baik keilmuan pesantren maupun ilmu sekolahan semuanya patut dijunjung.

Namun dari sekian yang nyata, ternyata pendidikan sekolah di negeri kita saat ini, ehem! maaf! bisa dikatakan gagal. Kegagalan yang (walau ini hanya asumsi saya) terjadi di negeri kita saat ini terlalu kompleks. Ini bisa dilihat dari berbagai variabel penyebabnya yang jika di list dalam satu rim HVS tidak akan pernah cukup untuk ditulis. Bukti nyatanya adalah kita bisa lihat dari jutaan rakyat indonesia yang mengenyam pendidikan produk pemerintah dewasa ini dirasa tidak mampu bersaing dengan hanya ribuan orang pelajar produk negara lain yang pedahal penduduknya lebih sedikit.

Dua hal yang sebenarnya diharapkan oleh kita. Sadar tidak sadar, kita hanya mengharapkan hasil akhir yang simpel dari sebuah pendidikan. Kita hanya ingin seseorang yang telah melalui proses pendidikan bisa menjadi orang yang pintar lantas beramal, tentunya dibarengi nilai-nilai moral yang luhur. Bukankah begitu? Namun kenyataanya, pendidikan di Negeri kita saat ini tidak bisa mencapai hasil akhir yang simpel tersebut.

Kita banyak menyaksikan moralitas dari para pelajar di negeri kita saat ini semakin kesini semakin menakutkan. Lebih menakutkan dari pada kumisnya pak polisi (pedahal jarang ada polisi berkumis), hehe. Tapi pokoknya menakutkan dan menyeramkan. Ada yang merokok, mabok, narkoba, seks bebas, radikalisme anarkisme, dan yang paling parah adalah tidak memiliki kesopan-santunan serta tatakrama. Sebagian lagi malah ada yang justru bangga bila telah melakukan kesalahan. Hadeuh? Aneh bukan? Tapi inilah dunia pendidikan kita saat ini.

Yang pada akhirnya, keinginan kita dari pendidikan saat ini semakin mengerucut. Kita hanya ingin punya generasi yang shaleh. Syukur-syukur bisa sampai pinter. Itu saja. Dan kemudian kita rindu pada pendidkan yang sebelum adanya pendidikan kita saat ini. Ya, pendidikan pesantren yang sebelumnya merupakan pendidkan utama di nusantara ini. Meski bukan pendidikan resmi dari pemerintah, namun lulusan pesantren dari masa kemasa selalu menjawab dengan hasil yang memuaskan. Baik dari segi keilmuan (meskipun lebih dominan pada ilmu agama), maupun dari segi tatakrama.

Oleh sebab itu, Ayo mondok! Ayo mondok! Ayo Mondok! Sempatkan diri kita, anak-anak kita, generasi penerus kita, untuk mengenyam dunia pesantren. Jangan sampai kita melewatkan masa pendidikan ini. Karena penyesalan pasti datang diujung. Kita kelak akan sadar bahwa akhlak adalah yang paling utama. Kita akan menangis bila kemudian generasi penerus kita jauh dari agama. Apalagi sampai tidak bisa baca tulis Al-Qur'an.

Bila kita meninggal, kita akan sangat butuh doa anak shaleh. Namun anak shaleh tidak akan datang sendirinya. Ia mesti dipersiapakan dan dimatangkan baik dari segi keilmuan dan penagalaman. Didik dan dibiasakan untuk senantiasa berbuat baik dan bertakwa kepada Allah SWT.

Ayo Mondok, pesantrenku keren!
***

Rifqi Marzooqie
Pondok Pesantren Mafazah
Bandung Barat

Tulisan ini memiliki 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post