Beriman Dalam Akidah Ahlussunnah Wal Jama'ah

author photo
Beriman Akidah Ahlussunnah Wal Jama'ah

Dakwah.web.id – Sahabat fillah, perlu kita ketahui bahwasanya kewajiban yang paling utama disisi Allah dan Rasul-Nya adalah beriman. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam Hadits Riwaya t Bukhari:

أفضل الأعمال إيمان بالله ورسوله

Artinya: “Amal yang paling utama adalah beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari)

Dan Beriman ini merupakan sebuah syarat diterimanya amal shalih seseorang. Sebab apabila seseorang berbuat kebaikan tanpa memiliki iman, maka amal shalihnya tidak akan pernah dicatat menjadi pahala. Allah SWT berfirman:

فاعلم أنه لا إله إلاّ الله واستغفر لذنبك
Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Imam Abu Hanifah pernah berkata dalam kitab Al-Fiqh Al-Absath:

إعلم أن الفقه في الدين أفضل من الفقه في الأحكام
“Ketahuilah sesungguhnya fiqih dalam agama lebuih utama ketimbang fiqih dalam hukum”

Akidah yang perlu kita pegang haruslah selaras dengan apa yang telah ditetapkan oleh ulama ahlusunnah wal jama’ah yang merupakan ulama jumhur mayoritas umat muslim dari masa kemasa. Yang sejalan denagn mengikuti madzhab empat imam yang mu’tabar. Serta sebagaimana yang dijalankan oleh para ulama Al-Azhar As-Syarif. Dan disini kami mencoba memaparkan sebagian dari apa yang menjadi aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah.

Mujtahid Imam As-Subki berkata dalam kitab Thabaqat As-Syafi’iyyah, dimana ia berkata:

وها نحن نذكر عقيدة أهل السنة فنقول: عقيدتنا أن الله قديم أزليٌّ، لا يُشْبِهُ شيئا ولا يشبهه شىء، ليس له جهة ولا مكان، ولا يجري عليه وقتٌ ولا زمان، ولا يقال له أين ولا حيث، يُرَى لا عن مقابلة ولا على مقابلة، كان ولا مكان، كوَّن المكان، ودبَّرَ الزمان، وهو الآن على ما عليه كان، هذا مذهب أهل السنة، وعقيدة مشايخ الطريق رضي الله عنهم " ا.هـ

“Disini kami akan memaparkan aqidah Ahlusunnah wal jama’ah. Maka kami berkata: ‘Aqidah kami (ahlusunnah wal jama’ah) meyakini bahwasanya Allah SWT adalah Dzat yang qadim nan azali (terdahulu), tidak menyerupai sesuatu apapun dan tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya. Ia tidak berada pada suatu arah dan tempat, Ia tidak terikat waktu dan zaman. Tidak boleh mempertanyakan dimana dan bagaimana terhadap-Nya.  Ia bisa dilihat oleh orang beriman di akhirat tanpa saling tatap muka dan perbandingan. Allah ada tanpa tempat. Ia yang telah menciptakan tempat dan mengurus masa waktu. Ia sekarang sebagaimana Ia ada sejak Azali. Inilah madzhab Ahlusunnah wal jama’ah dan aqidah para guru-guru yang semoga Allah senatiasa meridhoi”

Begitupun apa yang telah diucapkan oleh Al-Hafidz Imam Al-Baihaqi -rahimahullah-:

وما يقوله الحافظ البيهقي رحمه الله: "وفي الجملة يجب أن يُعلم أن استواء الله سبحانه وتعالى ليس باستواء اعتدال عن اعوجاج، ولا استقرار في مكان، ولا مماسة لشيء من خلقه، لكنه مستو على عرشه كما أخبر بلا كيف بلا أين، وأن إتيانه ليس بإتيان من مكان إلى مكان، وأن مجيئه ليس بحركة، وأن نزوله ليس بنقلة، وأن نفسه ليس بجسم، وأن وجهه ليس بصورة، وأن يده ليست بجارحة، وأن عينه ليست بحدقة وإنما هذه أوصاف جاء بها التوقيف فقلنا بها ونفينا عنها التكييف، فقد قال تعالى: ، وقال: ولم يكن له كفواً أحد، وقال: هل تعلم له سمياً"، انتهى من كتابه الاعتقاد والهداية.  والله أعلم.

"Secara jumlah keseluruhan, wajib diketahui bahwasanya makna istiwanya Allah SWT bukan berarti istiwa duduk bersila, bukan menetap pada suatu tempat, tidak bersentuhan dengan suatu ciptaanya. Akan tetapi istiwa Allah diaras sebagaimana yang diungkapkan tidak bisa digambarkan dengan bagaimana dan dimana. Dan ityaan (datangnya) Allah tidak diartikan datang dari tempat ke tempat. Dan datangnya Allah tidak dengan pergerakan, dan turunnya Allah tidak dengan perpindahan, karena dzat Allah bukan jisim selayaknya makhluk. Dan makna wajhu (wajah) Allah bukan dengan rupa, dan tangan Allah bukan dengan anggota badan, dan mata Allah bukan berarti melotot. Namun seluruhnya hanyalah sifat-sifat saja untuk pentauqifan. Dan untuk menafikan penggambaran kondisi bagaimanakah Allah."

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an surat As-Syuro ayat 11: “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah” dan dalam Al-Qur’an surat Al-Ikhlas ayat 4: “dan tidaklah ada seorangpun yang setara dengan Dia”

ليس كمثله شىء - سورة الشورى: ١١

وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ - سورة الإخلاص: ٤
***

Wallahu a'lam..
Rifqi Marzooqie

Tulisan ini memiliki 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post